Wednesday, September 13, 2017

Profil Halimah Yacob, Presiden Wanita Pertama Singapura

 Profil Halimah Yacob, Presiden Wanita Pertama Singapura



Halimah Yacob, Presiden Wanita Pertama Singapura
Komisi Pemilihan Presiden Singapura akhirnya mengesahkan Halimah binti Yacob sebagai satu-satunya kandidat calon Presiden Singapura yang memenuhi syarat sehingga berhak dilantik menjadi Presiden negara tetangga kita ini pada hari Rabu 13 September 2017. Politisi wanita pertama di Singapura yang akan menjabat sebagai Presiden tersebut bertugas selama 6 tahun. Di Singapura, Presiden  biasanya dipilih dalam pemilihan umum secara nasional. Akan tetapi, dalam aturan yang berlaku pemilihan presiden bisa diperuntukkan khusus bagi salah satu komunitas jika tidak ada seorang pun dari komunitas tersebut yang menjabat Presiden dalam lima masa jabatan terakhir. Dan karena dalam 5 tahun terakhir tidak ada perwakilan dari etnis Melayu dalam kurun waktu 5 kali jabatan presiden, maka pemilihan presiden tahun ini dikhususkan bagi komunitas Melayu. 

Profil Halimah Yacob
Profil singkat mengenai Halimah binti Yacob atau dikenal dengan Halimah Yacob adalah sebagai berikut

Nama Lengkap   :    Halimah Yacob
Tempat Lahir      :    Singapura
Tanggal Lahir     :    25 Agustus 1954
Umur Sekarang  :    63 Tahun
Kebangsaan        :    Singapura
Agama                :    Islam
Nama Suami       :    Mohammed Abdullah Alhabshee
Jumlah Anak       :    5
Jabatan                :    Presiden Singapura
Masa Jabatan      :    2017 – Selesai
Jabatan Sebelumnya :    Ketua Parlemen Singapura

Halimah binti Yacob atau biasa dikenal dengan nama Halimah Yakob merupakan politisi negara tetangga kita, Singapura yang lahir pada tanggal 23 Agustus 1954. Wanita dari Etnis Melayu (salah satu etin minoritas di Singapura) ini berasal dari Partai pemerintah, yaitu  Partai Aksi Rakyat (PAP).  Aktivitas politiknya mencapai puncak ketika dia dipercaya untuk menduduki jabatan cukup mentereng, yaitu Ketua Parlemen Singapura yang kesembilan. 

Dalam bidang pendidikan, mantan anggota parlemen yang mewakili konstituem Perwakilan Jurong group ini pernah mengenyam pendidikan di Singapore Chinese Girls School dan Tanjong Katong Girls School. Pendidikan tingginya diselesaikan di Universitas Singapura dan mendapatkan gelar LLB (Hons) di tahun 1978. Pada tahun 2016, dia mendapatkan gelar Doktor Kehormatan dari NUS. 

Di dalam konstitusi negara Singapura, sebenarnya jabatan Presiden tidak begitu siginfikan dalam pengaturan negara. Kepala negara yang resmi adalah Perdana menteri, sehingga semua kebijakan terkait dengan pemerintah dikeluarkan oleh pejabat tersebut. Dalam posisi sehari-hari, peran presiden lebih berkutat pada masalah seremonial dan juga peran komunitas. Yang dimaksud dengan peran seremonial yaitu Presiden menjadi Kepala Negara dan menjadi simbol yang mewakili Singapura dalam serangkaian acara kenegaraan dan dalam berbagai kegiatan di luar negeri. Adapun yang dimaksud dengan peran komunitas yaitu presiden bisa menggunakan pengaruhnya untuk mendukung kegiatan amal maupun isu-isu sosial.

Perang hashtag #NotMyPresident versus #HalimahisMyPresident

Diangkatnya Halimah Yakop menjadi Presiden tanpa melalui pemungutan suara sebenarnya menimbulkan polemik tersendiri di negara tersebut. banyak masyarakat yang terbelah akan pengangkatannya tersebut karena dipandang tidak sesuai dengan prinsip demokrasi. Di dunia maya sendiri, pandangan publik terbelah menjadi dua dengan menghasilkan hashtag yang saling bertentangan yaitu #NotMyPresident versus #HalimahisMyPresident. Bagi pendukung #NotMyPresident sebenarnya mereka tidak memiliki masalah dengan sosok Halimah Yacob, tapi mereka mempermasalahkan proses pemilihan yang dianggap tidak demokratis. 

Hal itu terjadi karena Halimah menjadi satu-satunya kandidat yang lolos sehingga pemungutan suara yang semestinya akan dilaksanakan pada tanggal 23 September ditiadakan. Selain itu, ada juga warga yang mempermasalahkan etnis dari Presiden terpilih. Halimah ternyata memiliki ayah yang berasal dari etnis India namun ibunya berasal dari etnis Melayu. Para penentangnya berpendapat bahwa etnis seseorang mengikuti ayahnya, sehingga Halimah beretnis India dan bukan Melayu